MAROS, PORTAL PGRI MAROS — Di tengah kepungan krisis air bersih akibat kemarau panjang dan cuaca ekstrem El Niño yang melanda Kabupaten Maros, Satuan Tugas Tanggap Bencana (TABE) PGRI Kabupaten Maros bergerak cepat menyalurkan bantuan air bersih. Bekerja sama dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Maros, aksi kemanusiaan ini ditujukan langsung ke wilayah-wilayah yang paling terdampak kekeringan.

Aksi tanggap darurat ini dipimpin langsung oleh Ketua TABE PGRI Kabupaten Maros, Sudirman, bersama anggotanya M. Iswahyudi Sudarman, serta didampingi oleh Ketua Angkatan Muda PGRI Kabupaten Maros, Badaruddin. Penyaluran air bersih kali ini difokuskan pada dua wilayah terdampak parah, yakni Kecamatan Lau dan Kecamatan Bontoa.
Di Kecamatan Lau, bantuan dipusatkan di SMP Satap Langkeang, SDN 107 Langkeang, dua masjid di lingkungan Langkeang, Kelurahan Mattiro Deceng, serta masyarakat sekitarnya.

Sementara di Kecamatan Bontoa, armada tangki menyasar SDN 44 Padaria (Dusun Padaria, Desa Ampekale) dan SDN 203 Inpres Binanga Sangkara (Dusun Binanga Sangkara, Desa Ampekale).
Warga dan pihak sekolah menyambut kedatangan bantuan ini dengan antusias dan rasa syukur yang mendalam. Bantuan air bersih dari PGRI melalui tim TABE ini dinilai sangat membantu meringankan beban harian warga yang kesulitan mendapatkan air layak konsumsi. Masyarakat pun mendoakan kelancaran rezeki bagi seluruh pengurus PGRI dan relawan yang terlibat, seraya berharap penanganan bantuan serupa dapat terus berlanjut.

Fenomena iklim El Niño tahun ini memicu penurunan curah hujan yang sangat drastis di Sulawesi Selatan. Kabupaten Maros menjadi salah satu daerah dengan dampak kekeringan paling signifikan, di mana wilayah pesisir seperti Lau dan Bontoa mengalami kondisi yang paling krusial.
- Sumber Air Mengering Total: Puluhan sumur galian warga dan embung desa tidak lagi mengeluarkaan air. Di daerah pesisir, sumber air tanah yang tersisa mengalami intrusi air laut sehingga terasa asin dan tidak layak untuk konsumsi.

- Kelumpuhan Sektor Pertanian: Ratusan hektare lahan persawahan di Maros mengalami tanah retak-retak hingga berpotensi gagal panen (puso) akibat ketiadaan pasokan air irigasi.

- Krisis Kebutuhan Domestik: Untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti memasak dan minum, sebagian warga sebelumnya terpaksa mengeluarkan biaya ekstra untuk membeli air galon atau air tangki swasta.

Melalui sinergi antara organisasi profesi seperti PGRI, tim relawan TABE, dan BPBD Maros, pendistribusian air bersih ke fasilitas pendidikan, rumah ibadah, serta permukiman warga dapat terus diupayakan demi menjaga ketahanan sosial warga setempat di tengah musim kemarau ini.***JZ***