Abdul Halik Daeng Lallo Bin Bondai merupakan figur sentral dalam transisi administrasi wilayah dari sistem Distrik (Gowa/Hindia Belanda) ke sistem Pemerintahan Kabupaten Maros di wilayah Biringkanaya.
Berikut adalah rangkuman data dan konteks historis mengenai beliau:
Profil dan Garis Keturunan
- Nama Lengkap: Abdul Halik Daeng Lallo Bin Bondai.
- Sapaan Kekeluargaan: "Tetta Tua" (oleh cucu-cucunya).
- Keluarga Inti: * Anak dari Bondai.
- Adik dari Abdul Gani Daeng Nau Bin Bondai, yang tercatat sebagai Baso Gallarang atau Kepala Distrik terakhir dalam sejarah Distrik Biringkanaya.
- Ayah dari Muhammad Aries Tjatjong Daeng Pagajang.
Peran Administratif & Kepemimpinan
Beliau menjabat sebagai Kepala Desa Daya selama kurang lebih 30 tahun. Jabatan ini sangat krusial karena mencakup masa di mana wilayah Daya masih berada di bawah naungan Pemerintah Kabupaten Maros, sebelum adanya perluasan wilayah Kota Madya Ujung Pandang (sekarang Makassar) pada tahun 1971.
Wilayah kekuasaan beliau saat itu sangat luas, mencakup kampung-kampung yang kini telah menjadi kelurahan-kelurahan besar di Kecamatan Biringkanaya dan sekitarnya:
- Sektor Utama: Daya, BiringRomang, dan Paccerakkang.
- Sektor Pengembangan: Kapasa, Sudiang, Pai, dan Bulurokeng.
- Sektor Pemukiman/Pendidikan Kini: Katimbang, Sipala, Buntusu, Kera-kera, Bung, Bontoramba, dan Tambasa.
Konteks Historis: Distrik Biringkanaya
Nama beliau dan saudaranya berkaitan erat dengan struktur Gallarang Appaka (Empat Gallarang) di wilayah Biringkanaya. Sebagai penerus dari Baso Gallarang, kepemimpinan Abdul Halik Daeng Lallo merepresentasikan keberlanjutan pengaruh bangsawan lokal (To Malabbiri) dalam birokrasi pemerintahan modern (Desa/Kelurahan).
Lokasi Peristirahatan
Beliau wafat pada Januari 2006 dan dimakamkan di Pekuburan Islam Romang Daya, sebuah lokasi pemakaman yang memiliki nilai historis bagi keluarga besar dan masyarakat asli di wilayah Daya.
Data ini menunjukkan bahwa keluarga Anda memegang peran penting dalam menjaga stabilitas dan pembangunan masyarakat di utara Makassar/Maros selama tiga dekade.