MAROS , PORTAL PGRI MAROS, — Suasana peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H di SDN 5 Barandasi, Kecamatan Lau, Kabupaten Maros, terasa berbeda tahun ini. Pihak sekolah memanfaatkan momen keagamaan tersebut sebagai sarana pembelajaran kontekstual bagi peserta didik Kelas 4 melalui perpaduan materi Seni Rupa dan pendidikan karakter keagamaan. (29/08/2026)
Dalam kegiatan ini, para siswa diajak mengaplikasikan Tujuan Pembelajaran (TP) 2.4, yaitu Menciptakan Karya dengan Komposisi Warna, menggunakan media telur rebus. Kegiatan tersebut merupakan kelanjutan dari TP 2.3 tentang Teknik Mencampur dan Menggunakan Warna yang telah dipelajari sebelumnya.

Setiap siswa membawa satu butir telur rebus dari rumah, sementara cat air disediakan secara bergotong royong di setiap kelompok. Tak sekadar mewarnai, siswa mengekspresikan kreativitas mereka dengan menghias, mengukir, hingga menuliskan pesan-pesan peringatan Maulid serta nama masing-masing pada cangkang telur.
Wali Kelas 4 SDN 5 Barandasi, Badaruddin, S.Pd., M.Pd., yang akrab disapa Daeng Guru, menjelaskan bahwa pemilihan telur sebagai media lukis bertujuan untuk mendekatkan materi pelajaran dengan realitas budaya siswa di Sulawesi Selatan.
"Anak-anak akan lebih mudah belajar ketika materi yang dipelajari dekat dengan kehidupan mereka. Suasana Maulid kita manfaatkan untuk belajar komposisi warna sekaligus mengenalkan tradisi yang ada di lingkungan mereka," ujar Daeng Guru.

Selain mengasah keterampilan motorik dan seni, kegiatan ini diisi dengan ceramah singkat mengenai sejarah serta makna peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Siswa diajak untuk mengenal lebih dekat sosok Rasulullah dan meneladani akhlaknya dalam kehidupan sehari-hari.
Daeng Guru menekankan bahwa pendekatan ini menggabungkan beberapa aspek pendidikan sekaligus dalam satu pengalaman belajar yang menyenangkan.
"Anak-anak bukan hanya membuat karya, tetapi juga belajar memahami tradisi Maulid dan nilai-nilai keteladanan Nabi Muhammad SAW. Jadi, seni, budaya, dan pendidikan keagamaan dapat hadir dalam satu pengalaman belajar," tambahnya.
Selama proses pembuatan karya, para siswa juga dilatih untuk mengasah empati dan keterampilan sosial, seperti berbagi alat lukis, bekerja sama dalam kelompok, serta mengambil keputusan dalam pemilihan warna.
Setelah seluruh proses kreasi selesai, hasil karya siswa didokumentasikan sebagai portofolio pembelajaran sebelum akhirnya dibawa pulang. Melalui kegiatan ini, SDN 5 Barandasi membuktikan bahwa pembelajaran yang berkesan dapat dibangun dari hal-hal sederhana di sekitar siswa—menjadikan Maulid sebagai konteks, telur sebagai media, warna sebagai ekspresi, dan tradisi sebagai sumber belajar.
***JZ***