Pendidikan

Metode Pappasang: Inovasi Pembelajaran Berbasis Kearifan Lokal Menggema di KKG Kecamatan Lau

JZ
Saturday, 25 April 2026
03:12 WIB
285 Kali Dibaca
Metode Pappasang: Inovasi Pembelajaran Berbasis Kearifan Lokal Menggema di KKG Kecamatan Lau

Maros, 25 April 2026 — Upaya penguatan pendidikan karakter berbasis budaya lokal kembali menemukan momentumnya. Kegiatan Kelompok Kerja Guru (KKG) se-Kecamatan Lau, Kabupaten Maros, yang dilaksanakan pada 23–25 April 2026, menghadirkan sebuah terobosan baru dalam dunia pendidikan: *Metode Pappasang*.

Kegiatan yang diikuti oleh guru-guru sekolah dasar se-Kecamatan Lau ini menghadirkan pemateri utama, Badaruddin, S.Pd., M.Pd., yang juga dikenal sebagai Ketua Angkatan Muda PGRI Maros. Dalam pemaparannya, ia memperkenalkan Metode Pappasang sebagai sebuah inovasi pembelajaran berbasis kearifan lokal Sulawesi Selatan.

Metode ini bukan hadir secara tiba-tiba. Badaruddin menjelaskan bahwa Metode Pappasang merupakan hasil penelitian dan pengembangan selama dua tahun, yang telah diuji langsung dalam praktik pembelajaran di ruang kelas. Ia menekankan bahwa metode ini berangkat dari kegelisahan terhadap pembelajaran yang kurang kontekstual dan semakin menjauh dari akar budaya peserta didik.

“Permasalahan utama pendidikan karakter hari ini adalah pembelajaran yang terputus dari realitas budaya lokal dan minim internalisasi nilai. Di sinilah pappasang hadir sebagai jembatan,” ungkapnya.

Dalam sesi pelatihan, peserta tidak hanya mendapatkan pemahaman konseptual, tetapi juga praktik langsung. Materi yang disampaikan meliputi pengenalan metode pappasang, teknik menyusun pappasang kontemporer, serta strategi mengintegrasikannya ke dalam rencana pembelajaran di berbagai jenjang kelas dan mata pelajaran.

Suasana kegiatan berlangsung dinamis dan penuh antusias. Para peserta terlihat bersemangat mengikuti seluruh rangkaian KKG. Hal ini tampak dari keaktifan mereka dalam diskusi, berbagi pengalaman, hingga mempresentasikan hasil kerja kelompok dengan penuh percaya diri. Interaksi yang hidup ini menunjukkan bahwa metode yang diperkenalkan tidak hanya dipahami, tetapi juga langsung direspons secara konstruktif oleh para guru.

Metode Pappasang menawarkan sejumlah keunggulan yang relevan dengan kebutuhan pendidikan masa kini. Di antaranya adalah kemampuannya dalam menguatkan karakter peserta didik, menghadirkan pembelajaran yang kontekstual, meningkatkan keterlibatan aktif murid, serta berkontribusi dalam pelestarian budaya lokal. Selain itu, metode ini dinilai fleksibel karena dapat diterapkan di berbagai mata pelajaran.

Dari sisi dampak, implementasi metode ini menunjukkan hasil yang signifikan. Aspek kognitif peserta didik mengalami peningkatan, sikap positif menjadi lebih kuat dan konsisten, serta perilaku mulai terbentuk menjadi karakter yang nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Ketua KKG Kecamatan Lau, Abdul Rahman, S.Pd., memberikan apresiasi terhadap materi yang disajikan. Ia menyebut bahwa inovasi ini bukan hanya menarik, tetapi juga menjawab kebutuhan riil dunia pendidikan saat ini.

“Materi yang disampaikan sangat inovatif dan relevan. Kami berharap para guru dapat mengimplementasikan Metode Pappasang ini di sekolah masing-masing,” ujarnya.

Apresiasi juga datang dari pengawas bina Kecamatan Lau, H. Mansyur, S.Pd., M.Pd. Dalam sambutannya, ia menegaskan keyakinannya terhadap potensi besar metode ini dalam memperkuat pendidikan berbasis budaya.

Ia menyampaikan bahwa kehadiran Metode Pappasang menjadi langkah strategis dalam menumbuhkan dan mengembangkan nilai-nilai kearifan lokal di Kabupaten Maros. Menurutnya, jika diimplementasikan secara konsisten, nilai-nilai tersebut tidak hanya hidup dalam proses pembelajaran, tetapi juga akan membentuk budaya sekolah yang selaras dan tetap relevan dengan amanah kurikulum.

Di akhir kegiatan, Badaruddin menyampaikan harapannya agar Metode Pappasang tidak berhenti di Kecamatan Lau saja, tetapi dapat terus berkembang dan tersosialisasi secara luas di seluruh Sulawesi Selatan, khususnya di Kabupaten Maros.

Di tengah arus globalisasi yang kerap menggerus nilai-nilai lokal, Metode Pappasang hadir bukan sekadar sebagai strategi pembelajaran, melainkan sebagai gerakan kultural—menghidupkan kembali suara leluhur dalam ruang-ruang kelas, agar pendidikan tidak hanya mencerdaskan, tetapi juga membumikan nilai dan membentuk karakter.

Bagikan Berita Ini:

Komentar (2)

Ramlah. S. S. Pd., Gr.
4 weeks ago

Materinya sangat menarik, memperkenalkan kearifan lokal bagi generasi muda khususnya para murid, dan dimulai dari fasilitator atau gurunya sendiri, semoga kami di Kabupaten Gowa bisa memperkenalkan budaya daerah khususnya makassar kepada seluruh kalangan generasi muda agar budaya kita tetap memasyarakat dan dikenal

Ramlah. S. S. Pd., Gr.
4 weeks ago

Materinya sangat menarik, memperkenalkan kearifan lokal bagi generasi muda khususnya para murid, dan dimulai dari fasilitator atau gurunya sendiri, semoga kami di Kabupaten Gowa bisa memperkenalkan budaya daerah khususnya makassar kepada seluruh kalangan generasi muda agar budaya kita tetap memasyarakat dan dikenal

Tulis Komentar
Butuh Bantuan?

PGRI Maros menyediakan layanan konsultasi dan bantuan hukum untuk anggota.

Lihat Layanan