MAROS , PORTAL PGRI MAROS — Nuansa religius dan kebudayaan menyatu dalam gelaran tahun keenam Maudu’ Ada’ Kalabbirang 2026 yang berlangsung megah di Ballak Lompoa Kassi Kebo, Kecamatan Maros Baru, Kabupaten Maros, Kamis (10/9/2026).

Mengusung tema “Appakalabbirik Kalabbirang” dengan tagline “Membumikan Shalawat dalam Integrasi Budaya Ri Butta Salewangang”, perhelatan ini menjadi cermin kekuatan masyarakat Maros dalam memadukan syiar Islam dan kelestarian tradisi lokal.

Keberhasilan gelaran tahunan ini ditopang oleh kolaborasi lintas organisasi. Sebanyak 14 lembaga bahu-membahu menyukseskan acara, di antaranya DPP LBCI Indonesia, LSB Karuwisi, LSB Pajaga Ada’, Lembaga Pusaka Butta Salewangang, LSB Salokoa, LSB Asea, LSB Akkarena Pepe, LSB Barasa, LSB Bara Ejayya, Pemuda Ansor Maros, LB Pijappu, DPC LBCI Maros Indonesia, PMII, serta PKG Maros Baru.

Ketua Panitia, Badaruddin, S.Pd., M.Pd. Daeng Latte, menegaskan bahwa landasan utama perhelatan ini adalah kebersamaan. Seluruh elemen bergerak di bawah satu prinsip utama: “Satu Konsep — Satu Komando — Satu Gerakan.”
“Inilah kekuatan kegiatan ini: bukan karena besarnya sebuah lembaga, tetapi karena banyaknya hati yang bersatu dalam satu niat untuk bershalawat, memuliakan Rasulullah SAW, serta merawat budaya Ri Butta Salewangang,” ujar Badaruddin.

Kemeriahan tradisi dimulai dari Stadion Kassi Kebo menuju Ballak Lompoa melalui Kirab Budaya. Para peserta mengarak baku bembengang—wadah khas Maudu—sebagai simbol kontribusi dan partisipasi setiap lembaga.

Di sepanjang rute kirab, peserta membagikan telur Maudu kepada warga sekitar. Aksi sosial ini menjadi simbol kegembiraan bersama dalam menyambut peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW, sekaligus mempererat silaturahmi antara penyelenggara dan warga local.

Sejumlah tokoh dan pimpinan lembaga menyampaikan pandangan mengenai pentingnya menjaga keberlanjutan tradisi ini:
- S. Muhammad Nur Assaqqaf Puang Cora (Ketua LSB Karuwisi): Menekankan bahwa peringatan Maulid Nabi adalah momentum penguatan syiar Islam dan cinta Rasulullah yang diwujudkan melalui aksi nyata berlandaskan adat dan adab bersendi syara'.
- Sayyid Danial Assaqqaf Puang Rani (Penggagas & Budayawan): Menyebut tradisi ini sebagai milik seluruh masyarakat Maros. Rasa memiliki dari warga menjadi kunci agar nilai-nilai budaya dan keislaman terus hidup melintasi generasi.
- Drs. Andi Abdul Waris Tajuddin Karaeng Sioja, M.Pd. (Karaeng Marusu): Mengapresiasi konsistensi pelaksanaan yang telah berjalan enam tahun berturut-turut sebagai simbol persatuan masyarakat Kabupaten Maros.
- Juhaeni, S.Pd., M.Pd. (Ketua PKG Maros Baru): Menyoroti pentingnya peran edukasi agar generasi muda tidak hanya belajar secara akademis di kelas, tetapi juga mengenali dan melestarikan warisan budaya daerahnya.

Perjalanan enam tahun berturut-turut Maudu’ Ada’ Kalabbirang membuktikan bahwa sinergi antara nilai keagamaan, nilai adat, dan partisipasi publik mampu menjaga keberlanjutan tradisi di tengah arus modernisasi. Perhelatan tahun 2026 ini menutup rangkaian acaranya dengan pesan kuat: membumikan shalawat, merawat budaya, dan memperkuat akar spiritualitas masyarakat Butta Salewangang.