Kegiatan

Maros Cultural Diversity: Diskusi Kebudayaan dan Pameran Bilah Pusaka Tegaskan Pentingnya Merawat Warisan Budaya di Era Modern

JZ
Sunday, 28 June 2026
00:30 WIB
450 Kali Dibaca
Maros Cultural Diversity: Diskusi Kebudayaan dan Pameran Bilah Pusaka Tegaskan Pentingnya Merawat Warisan Budaya di Era Modern

MAROS, PORTAL PGRI MAROS — Gerakan Maros Cultural Diversity kembali digaungkan melalui Diskusi Kebudayaan dan Pameran Bilah Pusaka bertema “Merawat Warisan Budaya di Era Modern” yang sukses diselenggarakan di Kedai Teras Oi, Pelataran Sekretariat Ormas Oi Maros, Sabtu (27/6/2026). Kegiatan yang merupakan kolaborasi Ormas Oi Maros, LSB Karuwisi, dan Museum Daerah Maros ini menjadi ruang edukasi sekaligus ajakan bersama untuk memperkuat pelestarian budaya di tengah perkembangan zaman.

Diskusi menghadirkan dua narasumber, yakni A. Isbullah, S.E. Karaeng Tajo, Pegawai Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Maros sekaligus penulis buku sejarah, serta Badaruddin, S.Pd., M.Pd. Daeng Latte, pemerhati budaya dan Pembina LSB Karuwisi. Jalannya diskusi dipandu oleh Amiruddin, Ketua Ormas Oi Maros, yang menghadirkan suasana dialogis antara narasumber dan peserta.

Dalam pemaparannya, A. Isbullah, S.E. Karaeng Tajo menjelaskan bahwa sejarah merupakan fondasi penting dalam membangun kesadaran budaya masyarakat. Menurutnya, memahami sejarah berarti memahami identitas sebuah daerah. Karena itu, upaya pelestarian budaya harus diawali dengan penguatan literasi sejarah, penelitian, dokumentasi, dan edukasi kepada generasi muda agar mereka mengenal akar peradaban yang dimiliki Kabupaten Maros.

Sementara itu, Badaruddin Daeng Latte memperkenalkan sekaligus mengembangkan gagasan Maros Cultural Diversity sebagai sebuah gerakan kebudayaan yang mengajak masyarakat memandang budaya Maros secara utuh, bukan hanya sebagai peninggalan masa lalu, tetapi sebagai kekuatan yang mampu membangun karakter, identitas, pendidikan, ekonomi kreatif, dan peradaban masa depan.



Menurutnya, Maros Cultural Diversity dibangun atas sepuluh aspek utama, yaitu Bahasa dan Ekspresi Verbal, Sistem Nilai dan Kepercayaan, Adat Istiadat dan Tradisi, Seni dan Ekspresi Budaya, Sistem Sosial dan Kelembagaan, Pengetahuan Lokal, Relasi Manusia dan Alam, Identitas dan Simbol Budaya, Interaksi dan Akulturasi Budaya, serta Pendidikan dan Pewarisan Budaya. Kesepuluh aspek tersebut menjadi satu kesatuan yang mencerminkan kekayaan budaya Kabupaten Maros.

Badaruddin menjelaskan bahwa budaya Maros bukan hanya tercermin melalui situs prasejarah Leang-Leang dan bentang alam karst yang mendunia, tetapi juga melalui bahasa Makassar dan Bugis, nilai Siri’ na Pacce, adat istiadat, kesenian lokal, pengetahuan leluhur, hingga hubungan harmonis masyarakat dengan alam.

“Maros Cultural Diversity adalah gerakan bersama untuk mengenali, merawat, mengembangkan, dan mempromosikan kekayaan budaya Maros. Budaya harus hadir dalam pendidikan, teknologi, media digital, ekonomi kreatif, dan kehidupan sehari-hari agar tetap hidup di tengah perubahan zaman,” ungkap Badaruddin.

Ia menambahkan bahwa pelestarian budaya bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau budayawan, melainkan menjadi tanggung jawab seluruh elemen masyarakat. Karena itu, konsep Maros Cultural Diversity diharapkan berkembang menjadi gerakan kolektif yang melibatkan sekolah, komunitas, organisasi, pemerintah, akademisi, dan generasi muda.

Selain diskusi, kegiatan juga dirangkaikan dengan Pameran Bilah Pusaka yang dipandu oleh S. Muhammad Nur Assaqqaf Puang Cora, Ketua LSB Karuwisi. Dalam sesi tersebut, Puang Cora menjelaskan berbagai koleksi pusaka yang dipamerkan beserta nilai sejarah, filosofi, dan makna budaya yang terkandung di dalamnya.

Menurutnya, pusaka bukan sekadar benda bersejarah, tetapi merupakan simbol perjalanan peradaban yang merekam nilai-nilai kepemimpinan, keberanian, kehormatan, tanggung jawab, dan kebijaksanaan para leluhur.

“Setiap bilah pusaka memiliki cerita dan pesan moral yang diwariskan lintas generasi. Melestarikan pusaka berarti menjaga ingatan kolektif tentang identitas masyarakat Sulawesi Selatan,” jelasnya.

Penjelasan tersebut mendapat perhatian besar dari peserta. Mereka tidak hanya melihat koleksi pusaka secara langsung, tetapi juga berdialog mengenai sejarah, fungsi, filosofi, serta peran pusaka dalam kehidupan masyarakat pada masa lalu hingga sekarang.

Ketua Ormas Oi Maros, Amiruddin, menyampaikan apresiasi kepada seluruh narasumber, panitia, dan lembaga yang telah berkolaborasi menyukseskan kegiatan tersebut. Menurutnya, kolaborasi lintas komunitas menjadi kekuatan penting dalam membangun gerakan pelestarian budaya yang berkelanjutan.

Melalui kegiatan ini, penyelenggara berharap Maros Cultural Diversity tidak berhenti sebagai sebuah konsep, tetapi berkembang menjadi gerakan nyata yang menghubungkan sejarah, budaya, pendidikan, pariwisata, ekonomi kreatif, dan teknologi. Dengan demikian, warisan budaya Maros tidak hanya tetap lestari, tetapi juga mampu menjadi identitas daerah yang membanggakan di tingkat nasional maupun global.

Mengusung tagline “Menjaga Warisan, Menghidupkan Peradaban”, kegiatan ini menjadi pengingat bahwa budaya bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan fondasi masa depan yang harus terus dijaga, dipelajari, dikembangkan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Bagikan Berita Ini:

Komentar (0)

Tulis Komentar
Butuh Bantuan?

PGRI Maros menyediakan layanan konsultasi dan bantuan hukum untuk anggota.

Lihat Layanan