MAROS – Menghadapi tantangan rendahnya kemampuan motorik halus anak di awal bangku sekolah, A. Mutmainnah, S.Pd., M.Pd., seorang pendidik dari SDN 21 Sanggalea, menginisiasi sebuah metode pramenulis kreatif untuk siswa kelas 1 SD. Praktik baik ini dibagikan secara langsung dalam ajang bergengsi Temu Pendidik Nusantara (TPN) XIII yang diselenggarakan di Kabupaten Maros pada Sabtu, 18 Juli 2026.
Dalam pelaksanaan pembelajaran sehari-hari, Mutmainnah menemui tantangan yang cukup kompleks. Banyak peserta didik belum bisa memegang pensil dengan benar sehingga tangan mereka cepat lelah. Gerakan tangan yang belum terkontrol membuat tulisan sering keluar garis dan ukuran huruf tidak konsisten.
Tantangan ini kian dinamis dengan adanya harapan dari sebagian orang tua yang menginginkan anaknya instan dalam menulis huruf dan kalimat utuh. Fase pramenulis sering kali dianggap remeh dan sekadar dinilai sebagai aktivitas bermain biasa, padahal fase ini merupakan fondasi krusial keberhasilan menulis anak ke depan.
Menjawab persoalan tersebut, ia merancang berbagai aktivitas pramenulis yang menyenangkan, sistematis, dan sesuai dengan ritme perkembangan anak, di antaranya:
- Melatih kekuatan otot jari menggunakan plastisin.
- Meronce untuk melatih koordinasi mata dan tangan.
- Menggunting, menempel, menebalkan aneka bentuk garis (lurus, lengkung, zig-zag), serta menghubungkan titik-titik.
- Membiasakan posisi duduk yang ergonomis dan teknik memegang pensil yang benar.
- Melakukan pendekatan persuasif untuk mengedukasi orang tua tentang pentingnya proses pramenulis tanpa memberikan tekanan berlebih pada anak di rumah.
Upaya konsisten ini membuahkan hasil luar biasa. Kemampuan motorik halus anak meningkat pesat: pegangan pensil menjadi mantap, kontrol tangan membaik, serta menghasilkan tulisan yang jauh lebih rapi dan proporsional.
Dampak yang paling signifikan adalah meningkatnya kepercayaan diri anak. Mereka mampu berkonsentrasi lebih lama dan menikmati setiap proses menulis tanpa takut salah. Di sisi lain, sudut pandang orang tua turut berubah; mereka kini memahami bahwa kemampuan menulis tidak melulu soal kuantitas menyalin huruf, melainkan kesiapan motorik anak yang harus dibangun secara bertahap.